logo-icon

Berjuang untuk pemenuhan hak-hak Seksual dan Kesehatan Reproduksi

PROFIL LEMBAGA

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kota Semarang adalah salah satu cabang PKBI Jawa Tengah yang berdiri sejak tahun 1970. Fokus utama PKBI Kota Semarang adalah isu-isu kesehatan reproduksi. Kegiatan awal mula PKBI Kota Semarang adalah kegiatan layanan klinik seperti layanan keluarga berencana (kontrasepsi) dengan sistem kafetaria, pengobatan infeksi menular seksual (IMS) serta promosi kesehatan.

Agenda dan Publikasi

11 Juni 2026

Remaja dan Burnout: Lelah yang Tak Selalu Terlihat

Sumber: Pinterest


Remaja merupakan kelompok usia yang berada dalam tahap perkembangan yang krusial, ditandai oleh berbagai variasi perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang rumit. Dalam tahap ini, individu tidak hanya berusaha menemukan identitas diri, tetapi juga harus menghadapi beragam tuntutan dari lingkungan seperti sekolah, keluarga, dan interaksi sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena yang semakin banyak jadi perhatian dalam studi kesehatan mental remaja adalah burnout. Kelelahan ini tidak lagi terbatas pada orang dewasa dalam dunia kerja, tapi juga semakin sering dialami oleh remaja, terutama dalam bidang akademik dan sosial. Burnout pada remaja kerap kali tidak tampak secara mencolok karena gejalanya sering disalahpahami sebagai malas, kurang motivasi, atau perubahan emosi yang dianggap normal selama masa tumbuh kembang. Padahal, kondisi ini merupakan bentuk kelelahan emosional, mental, dan fisik yang muncul akibat tekanan berkelanjutan yang tidak dikelola dengan baik. Penelitian menunjukkan bahwa burnout pada remaja sangat terkait dengan beban akademik yang tinggi, tuntutan untuk berprestasi, serta minimnya keseimbangan antara kegiatan dan waktu untuk beristirahat (Daniel, 2020).

Kelelahan mental pada remaja biasanya berkembang pelan-pelan, dimulai dari tekanan yang berkepanjangan, kemudian beralih menjadi keletihan emosional, hingga pada akhirnya membuat seseorang kehilangan minat pada aktivitas yang dulunya dianggap penting, seperti pendidikan atau interaksi sosial. Masalah ini sering dikenal sebagai kelelahan akademik, yang ditandai dengan perasaan kelelahan yang mendalam, sikap skeptis terhadap tugas atau lingkungan belajar, serta penampilan penurunan kepercayaan diri terhadap kemampuan sendiri. Remaja yang mengalami kondisi ini sering merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi yang ada, sehingga muncul rasa tidak berharga dan kurang motivasi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada berbagai bidang kehidupan, termasuk kesehatan mental, kinerja akademis, dan hubungan dengan orang lain. Menurut Salmela-aro et al., (2022) burnout pada remaja memiliki hubungan yang kuat dengan disengagement atau penarikan diri dari aktivitas, yang jika tidak ditangani dapat berkembang menjadi masalah psikologis yang lebih serius.

Fenomena burnout di kalangan remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, baik dari lingkungan luar maupun dari dalam diri mereka sendiri. Salah satu penyebab utama adalah tekanan akademis yang sangat besar, di mana sistem pendidikan yang berorientasi pada persaingan sering kali memaksa siswa untuk mencapai prestasi terbaik tanpa memperhatikan keadaan mental mereka. Banyaknya tugas, ujian yang terus menerus, serta dorongan untuk meraih nilai tinggi dapat menyebabkan stres jangka panjang yang akhirnya menjadi burnout. Selain itu, harapan dari keluarga dan masyarakat juga merupakan faktor penting, di mana remaja merasa harus memenuhi anticipasi orang tua atau menjaga citra diri di kalangan teman. Situasi ini diperburuk dengan penggunaan media sosial yang semakin meningkat, di mana remaja sering membandingkan diri dengan orang lain, yang menyebabkan munculnya perasaan tidak cukup baik atau gagal. Penelitian yang dilakukan oleh Ford et al., (2022) mengindikasikan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan peningkatan tingkat stres dan kelelahan mental pada remaja, yang berkontribusi pada terjadinya burnout.



Selain faktor eksternal, kelelahan emosional juga dipengaruhi oleh aspek internal seperti sifat pribadi dan kemampuan individu dalam mengatasi stres. Remaja yang memiliki kecenderungan untuk jadi perfeksionis, contohnya, biasanya menetapkan harapan yang sangat tinggi untuk diri mereka sendiri, sehingga mereka lebih mudah mengalami tekanan mental ketika tidak bisa memenuhi ekspektasi yang diinginkan. Di samping itu, rendahnya rasa percaya diri dan kurangnya kemampuan untuk menghadapi masalah juga dapat memperburuk keadaan kelelahan emosional. Dukungan sosial yang terbatas dari keluarga maupun teman sebaya juga merupakan faktor risiko yang signifikan, karena tanpa dukungan emosional, remaja cenderung merasakan kesepian saat menghadapi tantangan yang mereka hadapi. Lee & Lee, (2018) menjelaskan bahwa dukungan sosial memiliki peran yang krusial dalam mengurangi risiko kelelahan emosional dengan membantu individu dalam mengatasi stres dengan cara yang lebih adaptif.

Dampak burnout pada remaja tidak hanya terbatas pada kelelahan fisik dan mental, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan secara menyeluruh. Dalam aspek kesehatan mental, burnout sering kali berkaitan dengan munculnya gangguan seperti kecemasan dan depresi. Remaja yang mengalami burnout cenderung merasa tidak berdaya, kehilangan harapan, serta mengalami penurunan kesejahteraan psikologis. Selain itu, burnout juga berdampak pada prestasi akademik, di mana kelelahan mental menyebabkan penurunan konsentrasi, motivasi belajar, dan kemampuan dalam menyelesaikan tugas. Dalam aspek sosial, remaja yang mengalami burnout cenderung menarik diri dari lingkungan, mengurangi interaksi dengan teman, dan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal. Bahkan, dalam kondisi yang lebih serius, burnout dapat meningkatkan risiko perilaku negatif seperti self-harm atau penyalahgunaan zat sebagai bentuk pelarian dari tekanan yang dirasakan. Hal ini menunjukkan bahwa burnout merupakan masalah serius yang membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak.

Mengatasi burnout pada remaja memerlukan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai aspek kehidupan. Salah satu langkah penting adalah meningkatkan kemampuan manajemen stres pada remaja, seperti melalui pelatihan coping skill, teknik relaksasi, dan mindfulness. Selain itu, peran keluarga sangat penting dalam memberikan dukungan emosional dan menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja untuk mengekspresikan perasaan mereka. Lingkungan sekolah juga perlu berperan aktif dengan menciptakan sistem pendidikan yang lebih ramah terhadap kesehatan mental, misalnya dengan mengurangi tekanan akademik yang berlebihan dan menyediakan layanan konseling yang mudah diakses. Edukasi mengenai kesehatan mental juga menjadi hal yang penting agar remaja dapat mengenali tanda-tanda burnout sejak dini dan mencari bantuan yang tepat. Dalam kasus yang lebih serius, intervensi profesional seperti konseling atau terapi psikologis diperlukan untuk membantu remaja mengatasi burnout secara efektif.

Dengan demikian, burnout pada remaja merupakan fenomena yang nyata dan semakin meningkat seiring dengan kompleksitas tuntutan kehidupan modern. Kondisi ini sering kali tidak terlihat karena dianggap sebagai bagian dari dinamika remaja, padahal memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup individu. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran yang lebih luas dari masyarakat, keluarga, dan institusi pendidikan untuk memahami dan menangani burnout pada remaja secara tepat. Dengan dukungan yang memadai dan pendekatan yang holistik, remaja diharapkan dapat menjalani masa perkembangan mereka dengan lebih sehat, seimbang, dan bermakna.

Dengan demikian, burnout pada remaja merupakan fenomena yang nyata dan semakin meningkat seiring dengan kompleksitas tuntutan kehidupan modern. Kondisi ini sering kali tidak terlihat karena dianggap sebagai bagian dari dinamika remaja, padahal memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup individu. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran yang lebih luas dari masyarakat, keluarga, dan institusi pendidikan untuk memahami dan menangani burnout pada remaja secara tepat. Dengan dukungan yang memadai dan pendekatan yang holistik, remaja diharapkan dapat menjalani masa perkembangan mereka dengan lebih sehat, seimbang, dan bermakna (Ren & Sotardi, 2025).



Referensi:

Daniel, J. (2020). Madigan, Daniel J. and Curran, Thomas (2020) Does burnout affect academic achievement? A meta-analysis of over 100,000 students. Educational Psychology Review.

Ford, J. D., Elhai, J. D., Marengo, D., Almquist, Z., Olff, M., Spiro, E. S., & Armour, C. (2022). Temporal trends in health worker social media communication during the COVID ‐ 19 pandemic. May, 1–16. https://doi.org/10.1002/nur.22266

Lee, M. Y., & Lee, S. M. (2018). The effects of psychological maladjustments on predicting developmental trajectories of academic burnout. https://doi.org/10.1177/0143034318766206

Ren, X., & Sotardi, V. A. (2025). Rethinking Student Wellbeing in Higher Education : A Multifaceted Approach to Stress Management.

Salmela-aro, K., Tang, X., & Upadyaya, K. (2022). Study Demands-Resources Model of Student Engagement and Burnout.


Gallery

program

Griya ASA

Pendampingan dan penyuluhan pada kelompok beresiko tinggi HIV seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, lelaki seks dengan lelaki, warga binaan penjara dan sebagainya.

Klinik Griya ASA

Menyediakan layanan kesehatan yang ramah terutama kesehatan reproduksi.

Griya PMTCT

Memberikan penyuluhan dan pengobatan pada wanita subur dan ibu hamil tentang pencegahan HIV.

KDS Dewi Plus

Mendampingi dan memberikan dukungan psikologisosial pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Griya Muda

Memberikan pendidikan kesehatan reproduksi serta layanan konseling pada remaja.

Penelitian dan Pengembangan

Menyediakan pelayanan pendidikan, penelitian dan kemah kerja untuk masyarakat, akademisi dan peneliti terkait isuisu yang ditangani PKBI Kota Semarang.

mitra