logo-icon

Berjuang untuk pemenuhan hak-hak Seksual dan Kesehatan Reproduksi

PROFIL LEMBAGA

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kota Semarang adalah salah satu cabang PKBI Jawa Tengah yang berdiri sejak tahun 1970. Fokus utama PKBI Kota Semarang adalah isu-isu kesehatan reproduksi. Kegiatan awal mula PKBI Kota Semarang adalah kegiatan layanan klinik seperti layanan keluarga berencana (kontrasepsi) dengan sistem kafetaria, pengobatan infeksi menular seksual (IMS) serta promosi kesehatan.

Agenda dan Publikasi

11 Juni 2026

Di Balik Rutinitas: Kehidupan ODHIV yang Jarang Terlihat

Sumber: iStockphoto


Pernahkah teman-teman mendengar ungkapan seperti “HIV itu penyakit mematikan” atau “ODHIV pasti hidupnya penuh penderitaan”? Kalimat-kalimat seperti ini mungkin masih sering terdengar di sekitar kita. Tanpa disadari, anggapan tersebut membentuk stigma negatif terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). Padahal, di balik rutinitas sehari-hari yang tampak biasa, ODHIV menjalani kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan orang lain. Mereka bekerja, belajar, berinteraksi, dan berusaha menjalani hidup dengan sebaik mungkin. Namun, sering kali perjuangan mereka tidak terlihat karena tertutup oleh stigma dan diskriminasi yang masih kuat di masyarakat (Tristanto et al., 2022).

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4 yang berperan penting dalam melawan infeksi. Jika tidak ditangani dengan baik, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh sangat lemah sehingga tubuh rentan terhadap berbagai penyakit infeksi oportunistik (World Health Organization, 2025). Namun, dengan kemajuan pengobatan saat ini, HIV bukan lagi penyakit yang selalu berujung pada kematian. Melalui terapi antiretroviral (ARV), ODHIV dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang panjang apabila menjalani pengobatan secara teratur.

Meski demikian, kehidupan ODHIV tidak hanya berkaitan dengan pengobatan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek psikologis dan sosial. Banyak ODHIV yang harus menghadapi stigma sosial yang membuat mereka merasa terisolasi dan takut untuk terbuka tentang kondisi kesehatannya. Stigma ini sering muncul dari kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV, seperti anggapan bahwa HIV dapat menular melalui sentuhan biasa atau interaksi sosial sehari-hari (Hidayati, 2022). Kesalahpahaman ini menyebabkan ODHIV mengalami perlakuan diskriminatif di lingkungan keluarga, tempat kerja, bahkan dalam layanan kesehatan (Ninef et al., 2024).

Dalam kehidupan sehari-hari, rutinitas ODHIV sering kali melibatkan disiplin tinggi dalam menjalani pengobatan. Mereka harus mengonsumsi obat ARV secara rutin pada waktu yang sama setiap hari. Keterlambatan atau penghentian pengobatan dapat menyebabkan virus berkembang kembali dan menurunkan efektivitas terapi. Selain itu, ODHIV juga perlu menjaga pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, serta mengelola stres dengan baik. Rutinitas ini mungkin tampak sederhana, tetapi membutuhkan komitmen dan kesadaran yang tinggi untuk dijalankan secara konsisten.

Dampak psikologis yang dialami ODHIV juga menjadi bagian penting dari kehidupan mereka yang jarang terlihat. Banyak individu yang baru didiagnosis HIV mengalami perasaan takut, cemas, sedih, bahkan putus asa. Reaksi emosional ini wajar terjadi karena diagnosis HIV sering kali dikaitkan dengan stigma negatif dan ketidakpastian masa depan. Dalam beberapa kasus, ODHIV dapat mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Hal ini sering dipicu oleh rasa takut akan penolakan sosial, kekhawatiran tentang kesehatan jangka panjang, serta tekanan untuk menyembunyikan status HIV mereka dari orang lain (Fatih et al., 2021).

Selain tantangan psikologis, ODHIV juga sering menghadapi hambatan dalam kehidupan sosial. Tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk merahasiakan status HIV karena khawatir akan diskriminasi atau perlakuan tidak adil. Misalnya, ada ODHIV yang kehilangan pekerjaan setelah status kesehatannya diketahui oleh rekan kerja atau atasan. Ada pula yang mengalami penolakan dalam hubungan sosial dan keluarga karena dianggap berisiko menularkan penyakit, meskipun sebenarnya HIV tidak menular melalui interaksi sehari-hari seperti berjabat tangan, berbagi alat makan, atau duduk berdekatan (Hati et al., 2017).

Di sisi lain, dukungan sosial memiliki peran yang sangat penting dalam membantu ODHIV menjalani kehidupan sehari-hari. Dukungan dari keluarga, teman, dan tenaga kesehatan dapat meningkatkan motivasi ODHIV untuk tetap menjalani pengobatan dan menjaga kesehatannya. Lingkungan yang suportif dapat membantu mengurangi rasa cemas dan meningkatkan rasa percaya diri ODHIV. Kehidupan ODHIV juga tidak lepas dari tantangan ekonomi. Pengobatan HIV memang tersedia secara luas di berbagai layanan kesehatan, namun tetap ada biaya tambahan seperti transportasi menuju fasilitas kesehatan atau kebutuhan nutrisi khusus. Bagi sebagian ODHIV, keterbatasan ekonomi dapat menjadi hambatan dalam mempertahankan rutinitas pengobatan. Oleh karena itu, keberadaan program dukungan sosial dan layanan kesehatan yang terjangkau sangat penting untuk membantu ODHIV menjalani kehidupan yang lebih stabil.

Di balik berbagai tantangan yang dihadapi, banyak ODHIV yang mampu menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna. Mereka tetap bekerja, berkontribusi dalam masyarakat, dan menjalankan peran sosial seperti orang tua, pasangan, maupun anggota komunitas. Bahkan, tidak sedikit ODHIV yang menjadi aktivis kesehatan atau relawan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang HIV dan pentingnya pencegahan serta pengobatan (Agustina et al., 2025).

Penting untuk dipahami bahwa HIV tidak hanya menjadi isu kesehatan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan mental dan kesejahteraan sosial. Stigma dan diskriminasi yang terus berlangsung dapat memperburuk kondisi psikologis ODHIV serta menghambat akses mereka terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, upaya edukasi kepada masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman tentang HIV, cara penularannya, serta pentingnya dukungan terhadap ODHIV (Suryani & Siregar, 2021).

Peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang inklusif sangatlah penting. Setiap individu dapat berkontribusi dengan cara sederhana, seperti tidak menyebarkan informasi yang salah tentang HIV, menunjukkan sikap empati terhadap ODHIV, serta mendukung kebijakan yang melindungi hak-hak mereka. Layanan kesehatan, institusi pendidikan, dan komunitas juga memiliki tanggung jawab untuk menyediakan ruang yang aman dan bebas diskriminasi bagi ODHIV.

Di balik rutinitas yang tampak biasa, kehidupan ODHIV menyimpan berbagai perjuangan yang jarang terlihat. Mereka berjuang melawan virus dalam tubuhnya sekaligus menghadapi stigma dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa ODHIV adalah individu yang memiliki hak yang sama untuk hidup sehat, dihargai, dan diterima dalam masyarakat.

Mari bersama-sama membangun lingkungan yang lebih peduli dan inklusif, di mana setiap individu, termasuk ODHIV, dapat menjalani kehidupannya dengan penuh harapan dan martabat. Dengan meningkatkan pemahaman dan mengurangi stigma, kita tidak hanya membantu ODHIV menjalani hidup yang lebih baik, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berempati.



Referensi:

Agustina, D., Takasima, M. D. K., Nasution, A.-Z. S., Amalia, S., Ridana, C. N., Aldini, S. D., & Khaiyath, S. A. (2025). MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN HIV & AIDS MELALUI KAMPANYE MEDIA SOSIAL: PERSPEKTIF MASYARAKAT UMUM DAN ODHIV. Jurnal Kesehatan Tambusai, Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025, 8469–8482. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/view/46223/29382

Fatih, H. Al, Ningrum, T. P., & Shalma, S. (2021). Hubungan Stigma Hiv dengan Kualitas Hidup Penderita Hiv / Aids. Jurnal Keperawatan BSI, 9(1), 68–73.

Hati, K., Shaluhiyah, Z., & Suryoputro, A. (2017). Stigma Masyarakat Terhadap ODHA Di Kota Kupang Provinsi NTT. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 12(1), 62–77. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/jpki.12.1.62-77

Hidayati, R. D. (2022). Pengetahuan Remaja Tentang HIV/AIDS Dengan Stigma Terhadap ODHA Di Indonesia. Jurnal Medika Malahayati, 6(4), 429–433.

HIV and AIDS. (2025). World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids

Ninef, V. I., Sulistiyani, Situmeang, L., & Da Costa, A. (2024). Stigma dan Diskriminasi Sosial Terhadap Pengidap HIV-AIDS : Peran Masyarakat di Wilayah Timur Indonesia. HIJP : HEALTH INFORMATION JURNAL PENELITIAN, 14(2). https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.1358

Suryani, N. K. N., & Siregar, K. N. (2021). Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan Diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/ AIDS pada Wanita Usia Subur di Indonesia. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 20(3), 104–110.

Tristanto, A., Afrizal, Setiawati, S., & Ramadani, M. (2022). Stigma Masyarakat dan Stigma pada Diri Sendiri terkait HIV dan AIDS : Tinjuan Literatur Society. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 5(4), 334–342.


Gallery

program

Griya ASA

Pendampingan dan penyuluhan pada kelompok beresiko tinggi HIV seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, lelaki seks dengan lelaki, warga binaan penjara dan sebagainya.

Klinik Griya ASA

Menyediakan layanan kesehatan yang ramah terutama kesehatan reproduksi.

Griya PMTCT

Memberikan penyuluhan dan pengobatan pada wanita subur dan ibu hamil tentang pencegahan HIV.

KDS Dewi Plus

Mendampingi dan memberikan dukungan psikologisosial pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Griya Muda

Memberikan pendidikan kesehatan reproduksi serta layanan konseling pada remaja.

Penelitian dan Pengembangan

Menyediakan pelayanan pendidikan, penelitian dan kemah kerja untuk masyarakat, akademisi dan peneliti terkait isuisu yang ditangani PKBI Kota Semarang.

mitra