Sumber: Shutterstock
Pernah nggak sih, teman-teman mendengar alasan seperti ini: "Cuma sekali, santai aja lah", "Aku lagi stress", atau "Buat lupain masalah"? Sayangnya, alasan-alasan seperti ini justru sering menjadi pintu masuk seseorang menyalahgunakan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Padahal, di balik sensasi euforia yang hanya bertahan beberapa jam, ada harga yang jauh lebih mahal yang harus dibayar: kesehatan mental yang rusak perlahan-lahan, bahkan sebelum penggunanya menyadarinya. Banyak pengguna awalnya merasa lebih tenang, lebih percaya diri, atau bahkan lebih "bahagia" setelah mengonsumsi zat tersebut. Tapi tahukah teman-teman? Perasaan itu hanyalah ilusi kimiawi yang diciptakan oleh NAPZA di dalam otak. NAPZA bekerja dengan membanjiri otak dengan dopamine yaitu hormon yang mengatur rasa senang dalam jumlah yang tidak wajar (Sianturi et al., 2022). Akibatnya, otak menjadi "terbiasa" dengan kadar dopamin super tinggi. Saat efeknya hilang, pengguna justru merasakan kecemasan, kekosongan, dan depresi yang lebih parah dari sebelumnya. Ironisnya, untuk mengatasi rasa tidak nyaman itu, mereka kembali menggunakan NAPZA. Terbentuklah siklus kecanduan yang sulit diputus.
Penelitian menunjukkan bahwa berbagai jenis NAPZA memiliki dampak psikologis yang serius, terutama pada remaja dan dewasa muda. Heroin misalnya, yang termasuk jenis depresan, dapat menyebabkan depresi berat hingga 65,2% kasus, gangguan kecemasan 61,7%, gangguan perilaku 63,7%, hingga risiko bunuh diri yang tinggi (Sianturi et al., 2022). Sementara itu, ganja yang sering dianggap "ringan" dan "alami" oleh sebagian kalangan ternyata bisa memicu paranoid, halusinasi, psikosis, serta merusak fungsi kognitif otak seperti memori dan konsentrasi. Sabu-sabu yang termasuk jenis stimulan menyebabkan penggunanya menjadi mudah marah, kehilangan rasa percaya diri, sulit berkonsentrasi, hingga muncul keinginan menyakiti diri sendiri (Sianturi et al., 2022). Bahkan, gangguan mental akibat NAPZA tidak hanya berhenti saat pengguna berhenti mengonsumsi. Banyak mantan pengguna yang masih merasakan kecemasan kronis, mudah tersinggung, dan insomnia bertahun-tahun setelah masa penggunaan aktif mereka (Hafizhah et al., 2024).
Mengapa remaja sangat rentan? Masa remaja adalah masa pencarian identitas, rasa ingin tahu yang tinggi, serta tekanan dari pergaulan. Sayangnya, justru di usia inilah otak masih dalam masa perkembangan, sehingga kerusakan akibat NAPZA akan lebih parah dan permanen dibandingkan jika terjadi pada orang dewasa (Nurfadhilah et al., 2021). Dalam penelitian terhadap remaja yang menjalani rehabilitasi di Yayasan Handaru Kasih Bali, ditemukan bahwa mereka pertama kali menggunakan NAPZA karena ajakan teman sebaya akibat pergaulan, stres karena perceraian orang tua, atau hanya karena rasa ingin tahu dan ingin dianggap hebat. Sayangnya, efek yang mereka rasakan kemudian justru sebaliknya: halusinasi, gejala putus obat atau sakau yang menyiksa, hingga terpaksa mencuri untuk membeli NAPZA (Nurfadhilah et al., 2021).
Remaja yang menyalahgunakan NAPZA juga mengalami kesulitan bersosialisasi, pencapaian pendidikan yang buruk, masalah keluarga, serta mendorong perilaku kriminal (Sianturi et al., 2022). Selain efek langsung pada otak, pengguna NAPZA juga menghadapi stigma sosial yang luar biasa berat. Mereka dijauhi oleh tetangga, dikucilkan oleh teman, bahkan terkadang tidak diterima kembali oleh keluarga sendiri. Seorang pengguna NAPZA yang pernah ditahan di Rutan Kelas IIB Majene mengaku bahwa keluarganya dijauhi karena statusnya. "Jangan dekati itu karena ada keluarganya pakai," begitu kata masyarakat sekitar (Hafizhah et al., 2024). Stigma seperti ini justru memperburuk kondisi mental, membuat pengguna enggan mencari pertolongan, dan pada akhirnya memperpanjang siklus kecanduan. Padahal, pemulihan itu mungkin. Dengan dukungan keluarga, akses layanan kesehatan mental, serta lingkungan yang tidak menghakimi, banyak mantan pengguna yang berhasil menjalani hidup yang sehat dan produktif.
Pandemi Covid-19 juga turut memperburuk situasi. Tekanan psikologis akibat isolasi sosial, ketakutan akan penyakit, serta ketidakpastian ekonomi menyebabkan peningkatan risiko penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja dan dewasa muda. Sebaliknya, pengguna NAPZA juga lebih rentan terinfeksi Covid-19 karena sistem kekebalan tubuh yang lemah (Nurfadhilah et al., 2021). Dalam situasi seperti ini, edukasi dan pencegahan menjadi sangat penting. Upaya pencegahan bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan penyuluhan maupun kampanye secara online, serta peningkatan literasi kesehatan mental sejak dini. Sebuah program farmakoedukasi yang dilakukan di SMK Negeri 9 Medan berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang kesehatan mental dan bahaya NAPZA dari 40 persen menjadi 60 persen setelah diberikan edukasi melalui ceramah, demonstrasi, dan pendampingan menggunakan aplikasi kesehatan mental (Dalimunthe et al., 2025). Ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, kesadaran remaja tentang bahaya NAPZA bisa ditingkatkan secara signifikan.
Ada beberapa hal sederhana yang bisa teman-teman lakukan. Pertama, tingkatkan literasi kesehatan mental dan pahami bahwa NAPZA bukan solusi, tapi justru sumber masalah baru. Kedua, jadilah pendengar yang baik untuk teman yang sedang mengalami tekanan psikologis, jangan biarkan mereka memilih NAPZA sebagai pelarian. Ketiga, hilangkan stigma terhadap pengguna NAPZA karena mereka butuh dukungan dan akses rehabilitasi, bukan hukuman sosial. Keempat, manfaatkan layanan konseling jika merasa cemas, tertekan, atau ingin berhenti menggunakan NAPZA karena ada banyak layanan gratis dan rahasia yang bisa diakses.
NAPZA memang memberikan euforia sesaat, tapi di balik itu ada kerusakan mental yang berkepanjangan. Depresi, kecemasan, psikosis, kehilangan pekerjaan, hingga putusnya hubungan keluarga adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah kenikmatan palsu. Mulailah untuk mengajak teman-teman kita untuk berani bicara, berani menolak, dan berani membantu. Karena kesehatan mental kita adalah aset paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan NAPZA apapun.
Referensi:
Dalimunthe, A., Nasution, L. R., Utara, U. S., & Korespondensi, P. (2025). Farmakoedukasi Literasi Kesehatan Mental dan NAPZA untuk Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 9 Medan. Jurnal Surya Masyarakat, 8(1), 84–89.
Hafizhah, N., Nasir, S., & Arsyad, M. (2024). RIWAYAT DAN DAMPAK PENGGUNAAN NAPZA SERTA STRATEGI PADA NARAPIDANA DAN TAHANAN. 5(3), 297–316.
Nurfadhilah, Purnamawati, D., & Robalais, A. N. (2021). Penguatan Peran Remaja dalam Pencegahan dan Pengendalian NAPZA pada Masa Pandemi Covid-19. Community Empowerment, 6(4), 572–578.
Sianturi, R., Hartawan, L. A., Rahmah, N. A., Nuril, P., Safitri, M. Z., & Nabilah, N. (2022). Efek Penggunaan NAPZA Terhadap Kesehatan Psikologis. 5(2), 97–114.
Magang MBKM Psikologi UIN Walisongo 2026